Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Selasa, 22 Maret 2011

Ekspresikanlah...

Ekspresikanlah...

Di tepi jalan terlihat seorang gadis sedang duduk dengan perasaan gelisah menunggu seseorang. Tak hentinya ia melihat jam tangannya.
“Lama banget sih…” keluhnya.
Tak lama setelah itu datanglah sosok yang dia cari.
“Gin, yukk” ajak cowo itu.
“Sayang kok kamu lama banget sih ?” tanya Gina.
“Aku ada urusan tadi” jawabnya singkat.
Mereka pun jalan beriringan menuju kampus mereka. Gina dan Rama. Dua sedjoli yang baru jadian 3 minggu. Mereka sebenarnya sama-sama sayang. Tapi Rama yang terkenal kaku dan dingin banget susah buat ngungkapin perasaannya. Sedang Gina yang gampang banget mengekspresikan perasaannya memulai duluan. Yup ! Gina yang nembak Rama hingga akhirnya mereka pun jadian. Namun, selama jadian Rama nggak pernah ngomong sayang atau ‘Aku cinta kamu’ seperti cowo kebanyakan. Ia hanya sibuk dengan dirinya saja. Sedang Gina begitu perhatian sama Rama.
“Ram, pulang kuliah temenin aku ke toko buku, ya ?! ada buku yang aku cari” ajak Gina.
Rama hanya mengangguk. Sebenarnya Gina sebel juga ngelihat Rama yang cuek aja sama dia, tapi karena Gina sayang banget sama Rama jadi ia bisa sabar dan menerima keadaan Rama yang cuek seperti itu.
Saking cueknya waktu kencan pertama mereka Rama masih asyik aja ngutak-ngatik laptopnya. Kalau mau ngobrol malam-malam aja kalau bukan Gina yang nelpon nggak akan ada ucapan good night.
Hari ini Gina bermaksud ngajak Rama makan siang bareng. Ia pun menunggu di taman dekat tempat Rama biasa nongkrong dengan teman-temannya. Lama Gina menunggu hingga akhirnya Rama datang. Rama dengan santainya terus berjalan di depan Gina. Gina harus capek-capek ngejar Rama.
“Ram, tungguin aku dong” ucap Gina.
Gina pun langsung gandeng tangannya Rama ketika ia berhasil ngejar Rama dan tersenyum manis.
“Sayang, kamu mau pesan apa ?” tanya Gina.
“Samain aja” ucap Rama singkat.
Gina pun tersenyum memandang Rama.
“Sayang, kamu habis ngapain aja tadi ?” ucap Gina memulai pembicaraan.
“Aku tadi habis diskusi’in soal basket sama Roni” jawab Rama.
“Kalau aku sih tadi habis jalan-jalan di mall sama Sinta. Dan aku temuin satu barang yang pasti kamu suka” ucapnya sumringah.
Gina pun menunjukkan sebuah gantungan kunci bergambar pemain basket favorit Rama.
Rama hanya tersenyum dan berterima kasih.
Makan siang pun berlalu tanpa kata. Rama kemudian mengantar Gina pulang.
Di rumah, Gina kos bareng dengan sahabatnya, Myra.
“Baru pulang ? darimana aja ?” tanya Myra.
“Habis jalan sama Rama” ucapnya sumringah.
“Ha ? Rama ? jadi loe masih jalan sama dia ?” tanyanya heran.
“Iya dong. Emang kenapa sih ?” ucap Gina.
“Heran ya gue. Loe kok bisa tahan jalan sama robot kayak gitu ?” ucap Myra.
“Robot ? enak aja loe ngatain cowo gue robot” ucapnya kesel.
“Ya iyalah. Apalagi namanya kalau gayanya kaku dan nggak berekspresi kalau bukan robot. Loe tahan banget ya jalan sama dia ?” ucap Myra makin heran.
“Kan aku sayang sama dia. Lagian aku bahagia kok sama dia” ucap Gina singkat.
“Gini ya Gin. Bukannya gue mau bikin loe illfeel. Tapi pacaran dengan tipe cowo kayak Rama cuman bisa sakit hati. Bukannya bahagia malah makan hati” jelas Myra.
Gina hanya terdiam. Bagaimana pun juga ia sangat sayang sama Rama. Hingga ia nggak peduli dengan sifat Rama.
Siang ini Gina tampak terburu-buru. Pulang dari kampus ia langsung berangkat menuju taman biasa. Ia ada janji dengan Rama. Gina juga punya kejutan buat Rama. Rencananya ia mau ngasih tiket nonton basket. Sehingga ia bisa pergi berduaan dengan Rama. Lama Gina menunggu, ia terus menghubungi Hp Rama tapi nggak aktif-aktif. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui Rama di tempat nongkrongnya. Saat ia sampai ia begitu terkejut. Saat itu Rama sedang nongkrong bareng sama temen-temennya. Ia begitu terkejut karena ia melihat Rama bisa tertawa lepas dengan teman-temannya. Sedang bersamanya ia nggak pernah ngelihat Rama sebahagia itu. Ia pun kembali di taman. Ia pun berfikir.
“Rama bahagia banget tadi. Beda banget kalau jalan sama aku. Apa dia nggak bahagia jalan sama aku ? apa ia merasa tersiksa jalan sama aku ?” gumamnya dalam hati. Tanpa sadar ia meneteskan air mata. Ia merasa ia telah gagal menjadi pacar yang baik. Karena ia nggak bisa ngebahagiain pasangannya. Ia pun menaruh tiket itu di bangku taman bersama sepucuk surat. Kemudian ia pergi.
Tidak lama setelah itu Rama pun datang. Ia melihat Gina berlalu sambil menghapus air matanya. Rama kemudian melihat tiket dan pesan itu. Ia membaca pesan itu, “sampai jumpa di pertandingan besok”.
Rama pun terdiam memandangi tiket dan memandangi Gina yang berlalu dengan kecewa.
Malam pertandingan itu pun tiba. Gina dan Rama nggak berangkat bareng. Soalnya Rama harus menyelesaikan tugasnya dulu sebagai waiters di salah satu café. Pertandingannya tinggal sepuluh menit, namun Rama belum datang juga. Gina dengan gelisah menunggu di depan gedung. Satu jam ia sudah menunggu namun Rama tak kunjung datang. Akhirnya Gina pun pergi dengan kecewa. Ia berjalan menuju halte yang tidak jauh dari tempat itu.
“Kenapa sih dia selalu gitu ? selalu membuat aku menunggu. Apa dia nggak tahu perasaan aku ? apa ia nggak sayang sama aku ?” ucapnya sembari menangis.

Di lain pihak……
Rama sedang bersiap-siap untuk ke pertandingan itu. Ia melihat jamnya.
“Sepuluh menit lagi pertandingannya dimulai. Pasti Gina udah nungguin aku disana. Kasihan dia harus selalu nungguin aku” gumamnya dalam hati.
Belum juga Rama pergi, bosnya memanggil dia.
“Ram, tunggu sebentar” ucap bosnya.
“Ada apa mbak ?” ucap Rama.
“Sepertinya mobil saya mogok. Kamu bisa periksa dulu nggak ?” tanya bosnya.
“Bisa mbak” jawab Rama.
Sejam kemudian mobil itu akhirnya baik juga.
“Terima kasih ya Rama” ucap bosnya seraya berlalu.
Rama hanya tersenyum. Ia kemudian membersihkan tangannya yang belepotan. Lalu melihat jamnya.
“Udah telat satu jam. Kasihan Gina pasti masih nungguin aku” gumamnya. Ia pun segera berangkat.
Di depan gedung pertandingan itu ia mencari Gina. Ia tahu banget Gina. Gina pasti nunggu di luar supaya nanti bisa masuk bareng sama dia. Namun, ia tak melihat sosok yang dicari. Ia kemudian menyusuri setiap lorong yang ada disana, namun ia tak melihat Gina. Hingga akhirnya ia melihat Gina di halte bus sambil menangis sendirian. Rama pun menghampiri Gina.
“Gina” ucapnya.
Gina menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Gina berdiri sambil menghapus sisa-sisa air matanya.
Rama pun mendekati Gina.
“Maafin aku” ucap Rama pelan.
Gina tidak menjawab.
“Aku tadi telat karena aku…” ucap Rama.
“Kamu nggak usah jelasin apa-apa. Aku ngerti kok” ucap Gina.
Mereka terdiam. Gina kemudian melanjutkan.
“Ram, apa kamu sayang sama aku ?” tanya Gina kemudian.
Rama terkejut mendengar pertanyaan Gina tersebut. Lalu diam dan hanya menatap dalam Gina. Gina hanya tersenyum.
“Kamu nggak bisa jawab kan ? kenapa ? Ram, kalau kamu emang nggak suka sama aku, please jangan kasih aku harapan. Biar aku nggak terus-menerus nungguin kamu. Sorry Ram. Aku seperti ini. aku hanya ngerasa kalau kamu nggak pernah sayang sama aku. Kamu nggak bahagia sama aku. Dan ketika aku sadari semua itu aku sedih, karena aku nggak bisa ngebahagiain orang yang aku sayang. Jujur aja Ram, aku capek. Aku capek dicuekin seperti ini, nggak dianggap sama kamu. Dan sekarang aku sadar, mungkin kita lebih baik sendiri-sendiri aja dulu. Oke ?!” ucap Gina sembari meneteskan air mata.
“Gin, dengar dulu” ucap Rama coba menjelaskan.
“Udah, Ram. Mending kita sendiri-sendiri dulu, saling introspeksi diri. Bye” ucap Gina sembari meninggalkan Rama.
Rama tertegun sendiri. Ia merasa sangat bodoh saat itu. Ia sadar kalau ia bukan tipe orang yang gampang ngekspresiin perasaannya. Tapi, masa sama orang yang disayang juga ia masih aja kaku sih. Di saat yang sama ia juga merasa menyesal karena selama ini ia sudah membiarkan Gina terus menunggu hingga akhirnya Gina jenuh dan meninggalkannya.
Seminggu telah berlalu semenjak insiden itu. Kini tak ada lagi ucapan sayang dari Gina untuk Rama. Tak ada lagi telpon Gina untuk Rama. Di kampus Gina selalu menghindar kalau ada Rama.
Siang itu Gina duduk sendiri di taman kampus sambil merenung. Lalu tiba- tiba Myra datang.
“Hei, ngelamunin apaan ?” tanya Myra.
Gina tak menjawab.
“Ngelamunin Rama, ya ?” ucap Myra kemudian.
Gina menatap Myra. Lalu seketika mukanya muram.
“Myr, aku nggak bisa ngelupain dia” ucapnya kemudian.
Myra memegang pundak Gina untuk menghiburnya.
“Aku sayang banget sama dia. Tapi ternyata dia nggak bisa bahagia sama aku. Dia nggak sayang sama aku” ucapnya hampir menangis.
“Aku tahu kamu sayang banget sama dia dan susah buat kamu ngelupainnya. Tapi, aku yakin semua pasti bisa berlalu seiring jalannya waktu” ucap Myra coba menenangkan.
Gina hanya terdiam. Ia benar-benar sedih. Karena ia harus menerima kenyataan kalau cowo yang dia sayang ternyata nggak bahagia sama dia. Dan cintanya bertepuk sebelah tangan.
Di sisi lain…..
Seperti kebiasaan sebelumnya Rama selalu nongkrong bareng dengan teman-temannya. Namun, saat ini ia tak seperti biasanya. Ia seperti nggak punya gairah buat tertawa. Salah satu temannya yang menyadari hal itu pun bertanya.
“Loe kenapa, Ram ?”
Dia tak menjawab.
“Ada masalah sama Gina ?” tanyanya coba menebak.
“Iya, nih. Gue sama Gina lagi break. Sebenarnya salah gue juga sih. Gue yang nggak bisa ngekspresiin perasaan gue. hingga ia ngerasa kalau gue nggak sayang dan nggak bahagia sama dia” curhat Rama.
“Gue tahu loe nggak kayak gitu” ucap salah satu temannya.
“Iya, dari cara loe ngomongin Gina itu memperlihatkan kalau loe sayang banget sama dia” timpal teman lainnya.
“Gue memang sayang banget sama dia dan gue nggak mau kehilangan dia. Tapi, gue terlambat menyadari itu. Sekarang Gina udah ninggalin gue” ucapnya pesimis.
“Oh, come ‘on Ram. Nggak ada kata terlambat dalam cinta” ucap temannya.
“Kita-kita bisa bantu kok. Ya, kalau kamu sendiri sih nggak bakal berhasil. Tahu sendiri kan loe tuh robot” ucap teman yang lain.
“Maksud kamu ?” tanya Rama heran.
“Tenang, gue punya rencana” ucap temannya sambil tersenyum.
Keesokan harinya Rama sejak pagi udah nunggu Gina di depan gerbang kampus. Satu jam…dua jam…. Gina belum juga muncul. Dalam keputusasaannya menanti akhirnya sosok yang dinanti pun muncul. Sambil tersenyum Rama menyapa Gina.
“Hai, pa kabar ?” sapa Rama
“Hai, aku baik-baik aja” ucap Gina sedikit canggung.
Memang sangat terlihat jelas kekakuan di antara mereka. Tanpa berpanjang lebar, Rama memulai pembicaraan.
“Eh, Gin. Kamu ada waktu nggak ? ada sesuatu hal yang mau aku bicarain sama kamu” ucap Rama
Gina hanya terdiam bercampur rasa kaget. Kaget karena Rama yang ia kenal nggak mungkin ngajak ngomong duluan. Dan beberapa saat kemudian ia mengangguk tanda setuju.
Rama pun mengajak Gina ke taman kampus, di bangku dekat danau.
Rama menatap dalam Gina. Akibatnya, Gina jadi ngerasa nggak nyaman.
“Katanya mau ngomong, kok malah diam sih ?” ucap Gina memecah kesunyian.
“Gin, jujur aja. Selama kita break aku ngerasa ada yang hilang. Aku ngerasa kosong. Aku nggak tahu apa yang aku mau dan seminggu ini hidup aku seakan nggak bemakna” curhat Rama
Gina sedikit terharu mendengar itu.
“Kenapa ?” tanya Gina
Rama terdiam sebentar dan kemudian berkata, “Seharusnya kamu tahu jawabannya”
“Gin, kamu tahu aku kan ? aku bukan tipe orang yang bisa dengan mudah ngungkapin apa yang ada dalam hati aku. Aku sedikit bodoh dalam hal itu. Namun satu hal yang harus kamu tahu. Aku nggak pernah bermaksud nyakitin kamu, melukai perasaan kamu. Bagiku kamu terlalu berharga buat disakitin” ucap Rama.
Gina sedikit terkejut mendengar pernyataan Rama tadi. Karena Gina sendiri sangat mengerti Rama yang emang nggak bisa ngekspresiin apa yang ada di hatinya.
“Udahlah Ram. Nggak usah maksain diri kayak gitu. Aku tahu kamu kok. Dan kamu sendiri tahu aku, perasaan aku. Aku sayang banget sama kamu. Tapi, ternyata perasaan aku nggak ngebuat kamu nyaman. Aku nggak bisa buat kamu bahagia” ucap Gina
“Sstt…kamu ngomong apa sih. Gin dengar aku, siapa bilang aku nggak nyaman di samping kamu ? siapa bilang aku nggak bahagia sama kamu ?” tanya Rama.
“Emang nggak ada yang bilang. Tapi, emang itu kenyataannya. Aku baru nyadarin itu ketika aku ngelihat kamu bareng sahabat-sahabat kamu. aku nggak pernah ngelihat kamu tertawa begitu lepas seperti waktu itu. Kamu ceria, mata kamu berbinar. Dibanding kamu jalan sama aku, kamu terlihat begitu tertekan, penuh beban. Dan hal itu bikin aku tersiksa Ram ?!” jelas Gina
Rama terdiam. Ia terlihat hampir menangis. Ia kemudian menarik tangan Gina dan membawanya ke danau.
“Gin, lihat” ucap Rama sambil menunjuk ke arah danau.
Gina menoleh dan terlihat sangat shock. Di permukaan danau ada banyak lilin merah yang membentuk huruf I dan U, dan diantara huruf itu ada lilin lagi yang membentuk gambar hati. Di sekitar lilin itu helaian bunga mawar putih bertaburan. Bunga yang amat disukai Gina.
“Apa maksud semua ini ?” tanya Gina nggak percaya.
“Cuman ini yang bisa aku buat, itu pun dibantu sama Deny dan Myra” ucap Rama.
“Myra ?” ucap Gina.
“Iya, gue Gin. Rama sama Deny udah ngejelasin semuanya. Rama cinta banget sama loe. Gue aja bisa ngerasain itu, masa loe nggak ?” ucap Myra.
“Tapi….” Gina masih nggak percaya.
“Benar, gin. Rama cinta banget lagi sama kamu. Gue aja sampai bosan kalau Rama udah mulai cerita tentang kamu” ucap Deny.
Gina menatap Rama. Seakan menunggu suatu penjelasan.
Rama memegang kedua tangan Gina.
“Gin, aku tahu aku bodoh. Aku udah ngebuat kamu ngerasa kalau aku tertekan jalan sama kamu. Jujur, aku memang tertekan. Tertekan karena aku gugup. Asal kamu tahu aja, kamu orang pertama yang bisa buat aku kayak anak kecil, kamu cinta pertama aku. Dan aku selalu ngerasa grogi kalau jalan sama kamu” curhat Rama.
“Gin, maafin aku kalau aku udah buat kamu nangis, nyakitin perasaan kamu. Tapi, sumpah aku nggak maksud nyakitin kamu” ucap Rama.
Gina terharu mendengar itu. Namun, ia tetap bungkam tak mampu bicara.
Rama lalu mencoba mengatakan tiga kata itu.
“Aku….aku…cinta….’ ucap Rama terbata-bata.
“Udah, ram aku udah tahu kok. Kamu cinta sama aku kan ?” ucap Gina.
Rama hanya tersenyum malu karena masih tidak bisa mengucapkan kata itu.
“Ya..payah loe Ram. Masa ngomong kayak gitu aja kaku sih !” ledek Deny.
Gina tertawa. Rama lalu mendekap erat Gina.
“Aku janji aku akan selalu ngelindungi kamu, dan aku tak kan pernah lagi membuat kamu menunggu” ucap Rama.
Gina hanya tersenyum bahagia dalam dekapan Rama.
Dan dalam indahnya petang itu pun Rama dan Gina akhirnya bisa bersatu kembali.
So, ekspresikanlah apa yang ada di hatimu. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari………
THE END

Senin, 21 Maret 2011

Penyesalan

Aku nggak pernah menyangka aku akan merasakan perasaan sesal sedalam ini. Aku telah menyia-nyiakan seseorang yang telah mencintai aku setulus hatinya. Hai, aku Excel, Excel Pratama. Aku seorang musisi, guitarist sebuah band yang cukup terkenal. Aku dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang kaya raya. Ayahku seorang pengusaha yang sangat sukses, sedangkan ibuku adalah seorang designer yang terkenal.

Suatu hari….
“Excel, mama mau bicara” ucap mama. “Ada apa, ma ? serius banget” timpalku. “Mama sama papa berencana ingin mengenalkan kamu dengan anak sahabat papa” ucap mama serius. Aku terkejut “Maksud mama aku dijodohin,ma? Aduh mama, kayak Excel nggak laku aja”. “Kamu itu bukannya nggak laku, malah kamu itu laku banget, makanya mama mau nyariin kamu perempuan yang sepadan yang bisa dampingin hidup kamu nanti. Karena selama ini mama lihat kamu nggak serius sama pacar-pacar kamu, jadi mama fikir lebih baik mama yang nyariin kamu calon istri” jelas mamanya. “Ah, nggak ah ma. Pokoknya aku nggak mau dijodohin. Apa kata fans-fans aku nanti ? mereka bisa kecewa ma, kalo aku nikah sekarang, fans-fans aku bisa lari semua” bantahku. “Tapi…” belum selesai mama bicara, aku pun memotong pembicaraan mama. “Aku nggak mau. Titik…!!” . Aku pun pergi ninggalin mama.
Mama berencana mau ngejodohin aku. Saat itu aku menolaknya, karena saat itu aku lagi tenar-tenarnya dan sulit bagiku melepas masa lajangku. Saat itu aku dikelilingi oleh banyak gadis cantik, baik dari kalangan selebriti sampe model-model seksi.
“Kenapa sih loe, BT banget gua lihat ?” tanya salah seorang temanku. “Nyokap gua nih, pake jodoh-jodohin gua segala, emang gua nggak laku apa ?” curhatku. “Ha…ha… parah loe men, eh sekarang ini jaman modern bukan lagi jamannya St. Nurbaya” ledek temanku. “Sialan loe pake ledekin gue lagi”. Aku pun berlalu meninggalkan temanku itu.
Sebenarnya, gue malas pulang ke rumah gara-gara nyokap gue sering maksa gue buat ketemu dengan cewe itu. Tapi apa boleh buat, disitulah rumah gua, tempat gue pulang.
Masih dengan topic yang sama, mama maksa aku tuk ketemu sama tuh cewe. Ya, jelas gue nolak, gue terus-terus bantah nyokap, sampe bokap gue ngomong, “Kalo kamu tidak mau ketemu sama dia, papa akan cabut ahli waris kamu, dan menghentikan sponsor buat band kamu !”. Gue langsung tersentak kaget, sampe segitunya ya bokap ke
gue, tega banget sama anak. Akhirnya dengan berat hati, gue setuju buat ketemu cewe itu.
Malam berikutnya, gue sekeluarga bertemu keluarga cewe itu. Sebenarnya, dia cantik juga sih, tapi gue tetep sebel karena harus dijodohin. Dia pun memperkenalkan namanya, “Amelia” ucapnya lembut. “Excel” ucapku acuh. Kami pun makan bersama. Dia baik sih, tapi karena moodku udah jelek, ya gue nyuekin dia aja.
Dari saat itu, gue selalu disuruh nyokap untuk ngajakin Amelia pergi. Entah itu untuk nonton, makan, atau apalah, yang jelas setelah pertemuan malam itu, gue ama Amel –sapaan akrabnya- jadi sering jalan. Tapi jujur, saat itu gue selalu BT kalo jalan sama dia.
Karena gue udah nggak bisa nahan perasaan itu lagi, akhirnya gue curhat sama temen gue, “Men, gue kesel banget, nih. Gue harus jalan dengan orang yang nggak gue suka, itu loh yang dijodohin sama gue”. “Ya, kenapa loe nggak bilang aja sama bonyok loe kalo loe nggak srek sama cewe itu ?” tanya temanku. “Wah, nggak bisa. Kalo gue lakuin itu, ahli waris gue bisa dicabut. Sebenarnya, gue nggak keberatan kalo ahli waris gue dicabut, tapi itu loh masa bokap bilang bakal hentiin ngesponsorin band kita” ucapku. Ia pun terlihat berfikir lalu berkata, “Kenapa loe nggak bikin cewe itu nggak betah dekat loe ? kan kalo loe bikin dia nggak nyaman, dia sendiri yang akan batalin perjodohin kalian ?!”. “Wah, bener juga tuh. Tumben loe pinter. Thank’s ya ?!” jawabku. Aku pun seperti menemukan harapan baru.

Esoknya…
Aku coba menghubungi Amelia. “Halo…”ucapnya. “Halo, mel. Ini gue Excel” ucapku basa-basi. “Hei, cel. Ada apa nih ?” balasnya ramah. “Eh, gini mel. Gue mau ngajak loe makan nih. Loe ada waktu nggak ?” ajakku. Seperti nada nggak percaya, “Kamu ngajakin aku makan ?”. “Iya. loe bisa kan ?” tanyaku lagi. “Oh..bisa kok” jawabnya. Aku pun tersenyum puas, “Kalo gitu aku tunggu kamu sejam lagi di kafe biasa, ya ? see ya…?!.
Gue pun tiba di kafe. Ternyata Amel belum datang. Sambil menunggu aku memikirkan beberapa trik yang bisa bikin dia illfeel.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Amel tiba. Sambil tersenyum manis dia mulai menyapaku, “Hai,cel. Udah lama nunggunya ?”. “Oh, nggak juga. Eh..BTW thank’s ya udah mau datang” ucapku dengan nada tak berdosa. “Biasa aja deh. Oh ya, nggak biasanya nih kamu ngajakin aku makan, ada apa sih sebenernya ?” tanyanya penasaran. “Oh...anggap saja ini sebagai permintaan maaf gue karena selama ini gue nyuekin loe” jawabku. Dia hanya tersenyum simpul.
Kami pun makan. Trik pertama gue adalah bikin dia enek makan sama gue. Gue bertingkah kayak orang yang nggak makan setahun, gue melahap habis makanan gue. Kemudian bersendawa. Dan ternyata, dia malah tertawa dan bilang, “Kamu lucu banget deh, kayak anak kecil”. Gue terheran, nih cewe ternyata nggak jijik lihat gue kayak gitu. Kemudian dia berkata, “Sini aku lapin mulut kamu”. Dia ngelapin mulut aku yang blepotan. Dalam hati aku berkata, “Yah..gagal deh..!”.
Aku pun memikirkan trik kedua. Aku mulai dengan sayang-sayang dia dulu. Aku manja-manjain dia, bikin suasana romantis dengan dia. Selalu aku ajak di konser-konser aku. Sebenarnya, Amel baik, perhatian lagi. Dia selalu nyemangatin aku, kalo selesai manggung dia ngelapin keringat gue dan kasih minum ke gue. Hm…seneng juga sih. Tapi tetep aja, gue ogah dijodohin. Jadi gue tetep lanjutin trik kedua.
Rencananya dimulai dengan aku ajak dia ke pesta sohib gue. “Excel, kamu mau minum, nggak ? aku ambilin dulu ya disana ?!” ucapnya manis. Saat dia pergi ngambilin minum, aku praktekin trik kedua. Pura-pura selingkuh di depan dia. Aku datangi temen-temen model gue. Gue mulai sapa mereka dan bersenang-senang sama mereka. Amel yang ngelihat gue gandeng dua cewe, nyamperin gue. Dan seperti nggak ada apa-apa dia bilang, “cel, nih minuman kamu” kemudian dia bilang, “cel, aku kesana dulu, ya. Aku tadi ngelihat teman aku. Aku mau sapa dia dulu, ya ?!”. Kemudian dia pergi. Gue terheran abiess, tuh cewe nggak cemburu sama sekali ngelihat gue sama cewe-cewe cantik, seksi pula.
Akhirnya di perjalanan pulang aku coba nanya dia, “Mel, kamu tadi ngelihat aku sama model-model itu nggak cemburu, ya ?”. Dengan tersenyum dia ngejawab, “Nggak lah, cel. Dia kan teman-teman kamu, ngapain aku cemburuin. Lagian aku harus ngertiin dunia kamu, yang memang dipenuhi model-model cantik. Emang kenapa sih nanya gitu ?”. I’m speechless, nih cewe sabar banget. Dan aku sadar kalo trik kedua gue juga gatot, alias gagal total.
Gue pun terfikir sebuah ide gila yang akan membuat Amel memutuskan perjodohan kami. Gue ngajak dia dinner di sebuah kapal. Aku ngajak dia dansa, pokoknya romantis-romantisanlah. Dan saat itu gue ngajak dia ke kamar, gue pura-pura mau ngapa-ngapain dia. Dia pasti bakal marah dan minta perjodohan kami dibatalkan, secara dia tuh menjunjung tinggi rasa moral.
Awalnya gue pura-pura mabuk gitu, trus mulai maksa dia. Dia nangis, dan melakukan hal yang nggak sama sekali gue kira. Dia ngelepas sweternya, trus bilang, “Kalo memang aku harus nempuh cara ini untuk nunjukin ke kamu betapa besar cintaku, silahkan, silahkan lakukan semaumu..!!!”. Gue kaget, sumpah gue nggak maksud bikin dia semarah itu. Akhirnya, gue buka jas gue lalu gue nutupin tubuhnya. Gue pun ninggalin dia sendiri.
Esoknya, nyokap gue marah-marahin gue. Gue kira, nyokap tahu apa yang gue lakuin semalam. Tapi, nyokap gue ngomong, “Kamu sih nggak bisa bikin Amel suka sama kamu. Jadi, Amel mutusin perjodohan kalian, katanya dia mau mengejar karir dulu. Padahal, mama sayang banget sama dia..”. Akhirnya, hal yang ku inginkan tercapai juga. Amelia nggak mau nerusin perjodohan. Aneh, seharusnya gue seneng kan nggak jadi dijodohin. Tapi, kenapa gue ngerasa sedih, ya?
Seminggu setelah itu, gue seperti kehilangan sesuatu. Hari-hari gue kosong, nggak ada yang menarik. Tanpa sadar gue merindukan sosok Amel. Amel yang baik, perhatian, pengertian, dan sabar. Gue teringat saat-saat kebersamaan kami, dan tanpa sadar gue senyum-senyum sendiri.
Malamnya, gue nongkrong sendiri di rumah. Gue mengingat saat gue bikin Amel marah dan saat itu merupakan pertemuan terakhir kami. Amel nggak pernah lagi ke rumah, dia nggak pernah lagi ngehubungin gue. Gue ngerasa bersalah banget, sumpah…
Tanpa aku sadari, mama nyamperin gue. Dia trus nanya, “Excel, mama mau nanya. Kenapa sih kamu nggak mau dijodohin sama Amel ?”. Aku pun menjawab, “Excel nggak mau aja ma, kalo Excel menikah tanpa cinta”. Mama pun bilang, “Siapa bilang tanpa cinta ? kamu kali yang nggak cinta. Kalo Amel sih cinta banget sama kamu”. Dengan nada nggak percaya aku pun bilang, “Ah, mama. Mana mungkin Amel bisa secepat itu jatuh cinta berat sama aku, kita kan baru ketemu, ma ?!”. Mama pun menjawab, “Mama kasih tahu, ya. Amel sudah suka sama kamu itu sejak dulu. Sejak kalian masih kecil. Kamu lupa, ya ? Amel itu tetangga kita waktu kita tinggal di Menteng dulu. Yang biasa kamu panggil Lia itu”. Gue terkejut. Ternyata Amel itu teman kecil gue, Lia. Sekarang gue ingat, teringat akan masa kecil gue. Teringat waktu dulu saat gue bilang, “Nanti kalo aku udah gede, kamu mau nggak jadi istri aku ?” pada Lia. Gue bener-bener goblok. Saat itu gue pun nyadar kalo sebenarnya gue udah jatuh cinta sama Amel yang tak lain dan tak bukan adalah Lia.
Esoknya, gue berencana nemuin Amel buat minta maaf dan nyatain perasaan gue ke dia. Belum juga sampe ke mobil, mama gue datang dan bilang, “Cel, ayo temenin mama ke rumah sakit. Amel sakit dan sekarang lagi di rumah sakit. Gue tersentak, dengan segera gue menuju kesana.
Sampai di rumah sakit gue ngelihat orang tua Amel yang tampak cemas. Gue kaget karena gue fikir Amel di ruang inap biasa, tapi ternyata dia lagi di ruang I.C.U. Gue tanya ke mamanya Amel, “tan, Amel kenapa ?” . sambil nangis mamanya bilang, “sakitnya makin parah”. Gue penasaran dan nanya mamanya Amel lagi, “sakit ? memangnya Amel sakit apa ?”. Dengan suara bergetar mamanya bilang, “Dia terserang kanker otak stadium akhir”. Gue shok, shok abiess. Ternyata selama ini dia sakit parah dan gue dengan egoisnya udah nyakitin dia. Cewe yang cinta banget ke gue, yang baru gue sadari juga kalo gue cinta banget sama dia. Tanpa terasa gue nangis, tangis penyesalan. Dalam hati gue berdoa, “Tuhan, sembuhkanlah Amel. Aku janji Tuhan kalo dia sembuh, aku akan bahagiain dia”. Setelah menunggu lama, akhirnya dokter keluar dan bilang kalo Amel masih dalam keadaan kritis. Dokter pun bilang kalo kemungkinan Amel sembuh itu kecil banget.
Gue nyamperin Amel, dengan perlahan gue genggam tangannya dia. Gue nangis ngelihat dia terkulai lemah seperti itu. Selama dia nggak sadar gue selalu nemenin dia. Dan akhirnya setelah seminggu nggak sadar, dia mulai membuka matanya. Gue bahagia banget saat itu. Gue rasa dia akan sembuh.
Gue mulai pembicaraan, “Mel, maafin aku,ya ? aku selama ini udah bikin kamu nggak nyaman. Aku mohon maaf banget sama kamu“. Dengan tersenyum dia bilang, “Hei, kamu serius banget, nggak biasanya deh. Aku akan maafin kamu kalo kamu ngajak aku jalan-jalan”. “ Sekarang ?”. “Iya, sekarang” jawabnya. Aku pun melihat orang tuanya, sambil menangis mereka mengangguk.
Sepertinya mereka sudah pasrah dan ingin mengabulkan semua keinginan Amel.
Aku pun mengajak Amel jalan-jalan di taman
rumah sakit. Setelah berjalan cukup lama, kami pun duduk di bangku taman. Dari jauh kedua orang tua dan dokter mengawasi kami, berjaga-jaga apabila Amel mendadak kesakitan. “Aku seneng deh sekarang kamu udah berubah. Udah lebih dewasa” ucapnya memulai pembicaraan. “Kamu juga, sekarang kamu tambah cantik, dulu kan kamu kucel” ucapku bercanda. Dengan nada tak percaya dia bilang, “Kamu masih ingat saat-saat kita masih kecil dulu ?”. Aku pun menjawab, “Ya iyalah aku masih ingat (padahal bo’ong)”. Kami pun membicarakan masa kecil kami, sampai seketika aku bilang, “Mel, aku cinta sama kamu”. Amelia terkejut, dia menangis dan bilang, “Aku juga cinta banget sama kamu. Terima kasih kamu udah mau cinta sama aku.” Aku pun mendekap dia, dan tanpa sadar aku meneteskan air mata. Setelah jalan-jalan seharian, Amelia diperiksa sama dokter dan suatu keajaiban Amel menunjukkan kemajuan. Dengan senyum yang lebar aku mendekap dia. Aku bahagia banget. Aku nemenin Amel sampai ia tertidur, aku pun nyium kening dia. Dan pulang ke rumah.
Di kamar aku sangat menyesali diri. Kenapa baru di saat seperti ini aku tersadar kalo aku sayang banget sama Amel. Kenapa bukan dari dulu-dulu. Dalam hati aku pun berjanji akan membuat hari-hari Amel bahagia. Aku berencana ngelamar Amel.
Esoknya, pagi-pagi aku udah berangkat nyari cincin. Setelah lama mencari-cari akhirnya aku nemuin satu yang pas buat Amel. Sesegera mungkin aku ke rumah sakit. Sesampai di rumah sakit, aku heran kenapa semua orang menangis ? Aku pun masuk ke ruangan Amel. Ku lihat dia ditutupin dengan kain putih. Amel meninggal…..
Tangis gue tumpah, gue nggak percaya Amel pergi gitu aja. Gue nggak rela dia ninggalin gue gitu aja. Gue nggak rela…
Di pemakaman , gue nabur bunga ke kuburan Amel. Gue nangis, gue nyesel. Menyesal karena gue nggak bisa buat dia bahagia. Cewe yang benar-benar tulus mencintai aku…

THE END

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates